Friday, September 24, 2004

Irvine



beberapa bulan yang lalu aku nungguin dosenku mau bimbingan. setelah dua jam nungguin beliau pas ketemu ternyata diundur satu jam lagi karena sang ibu punya klien mendadak. ternyata kliennya ini masih kecil, anak SD-lah. seketika itu juga aku langsung teringat sama seseorang, my first and last therapy client. well, sebenarnya sih bukan klienku, tapi klien dosenku, cuma waktu itu aku yang masih jadi asisten di Pusat Konsultasi dan Layanan Psikologi Divisi Sanggar Kreativitas Ubaya, dimintain tolong untuk jadi pendamping. jadi proses terapinya si ibu dosen yang ngasih metode-metodenya, aku yang ngejalanin dan ngasih laporan observasi tiap selesai terapi.
Sebut aja namanya irvine. waktu itu umurnya masih 9 tahun, kelas 2 SD. Masalahnya dia suka nyuri barang-barang temennya, bohong, dan suka mukul temennya. Sebelum sama aku, irvine sudah lebih dulu didampingi temenku yang minta berhenti karena sakit. Kedekatan irvine ama temenku (anggap aja namanya Lina), sedikit banyak bikin dia susah menerima keberadaanku. Untungnya si Lina nggak ninggalin aku ma irvine gitu aja. Pertemuan pertama sampai keempat (kita terapi tiap dua kali seminggu), kami maen bertiga untuk membangun rapport antara aku ama irvine, sekaligus membiasakan irvine ditinggal ama Lina.
Irvine bukan kasus yang gampang, dia korban keadaan. Bapaknya yang nggak peduli sama keadaan rumah tangganya (kata ibunya sih, dia nggak kerja), ibunya yang kerja dan galak banget ama irvine (dia anak tunggal), khas broken home victim deh. Kenapa dia jadi nakal seperti itu? Dugaan sementara karena dia merasa inferior di hadapan teman-temannya. Irvine sekolah di SD Petra di daerah Keputih yang lingkungannya elit, temen-temennya kebanyakan orang yang "lebih", sementara dia sekedar "cukup"lah (ibunya sering sambatan bayar uang terapi tiap bulan dan sering ngancem berhenti kalau irvine kumat nakalnya). Dengan mencuri barang-barang temennya dan berbohong, dia berusaha untuk menutupi keadaannya yang sebenarnya. Dengan suka mukul temen-temennya dia ingin tidak diremehkan. Bayangin! Anak kelas 2 SD udah punya coping strategy seperti itu.
Mendekati irvine bukan hal yang mudah, kadar kepercayaannya sama orang rendah sekali. Dia sering menguji kesabaranku dengan minta nonton VCD (hobinya nonton seri pengetahuan "Kini Ku Tahu") padahal harusnya dia menggambar. Minta dibeliin macem-macem jajanan padahal ibunya udah wanti-wanti dia nggak boleh makan yang aneh-aneh karena alergi. Minta jalan-jalan keliling kampus (terapinya di kampusku) padahal dia udah ditungguin dosenku untuk terapi. Capek, tapi waktu dia mulai percaya sama aku, semua rasa capek itu terbayar! Terharu rasanya waktu dia mulai cerita tentang kesedihannya sambil minta dipeluk, waktu dia marah terus nangis di punggungku. He was my baby...
Irvine mulai menganggap aku teman, kakak (kadang-kadang jadi baby sitternya dia juga sih). Ibunya bilang, dia suka marah kalau sang ibu nggak bisa nganter dia terapi. Dia mulai merasa nyaman ada di sampingku. Dia suka bikinin aku gambar, nyuruh aku telepon ke rumahnya, maen ke rumahnya dengan embel-embel, "tapi nggak boleh sama pacarnya kak alfa ya." atau kadang-kadang telepon ke kantor pas aku lagi tugas.
Beberapa bulan, irvine mulai menampakkan kemajuan. Wali kelasnya bilang (waktu kita "sidak" ke sekolahnya irvine) dia sudah bisa konsentrasi ke pelajaran (dia pernah lho dengan bangga menunjukkan hasil ulangannya yang dapat 8 ke aku), perilakunya yang kasar dan suka mencuri sudah mulai berkurang. Dan dia seneng banget waktu liat ibu dosen dan aku di sekolahnya dia.
Namanya juga anak-anak, terapi nggak semudah membalikkan telapak tangan. Menurut aku, sebaiknya nggak cuma irvine yang diterapi, tapi juga orangtuanya. Suatu saat dia sempat ngamuk karena neneknya yang selama beberapa waktu tinggal di rumah irvine dan deket banget ma dia disuruh pulang sama ibunya. Pas terapi dia nangis-nangis, minta ditelponin neneknya. Seandainya kalian denger apa yang dia omongin sama neneknya, touchy banget. Seharian dia nggak mau ngerjain assignmentnya. Biasanya kalau dalam keadaan seperti itu, aku nurut apa maunya dia. Dipaksakan toh percuma. Sempat nggak mau pulang, ibunya nggak bisa membujuk, aku apalagi. Setelah dijanjikan sama ibunya kalo si nenek cuma pulang sebentar akhirnya dia mau pulang.
Sayangnya kontraknya Irvine sama PKLP cuma 4 bulan, seharusnya dilanjutkan lagi tapi ibunya merasa nggak sanggup bayar lagi. Sementara itu, aku juga sudah mengajukan cuti ke PKLP, aku sudah mulai jenuh dengan pekerjaan di sana, kasian anak-anak itu kalau aku memaksakan diri (tugas utamaku dulu jadi asisten guru playgroup Sanggar Kreativitas). Tapi karena dosenku merasa Irvine belum menampakkan kemajuan yang berarti, diputuskan Irvine ditangani sama tim terapisnya dia (terdiri dari mahasiswa psikologi juga) yang mengkhususkan pelayanan gratis.
Beberapa minggu menjelang berakhirnya terapi, hubungan aku sama Irvine mulai memburuk. Aku berusaha supaya Irvine nggak terlalu tergantung sama aku, tapi dia menganggap aku nggak care lagi sama dia. Kepercayaan dia ke aku kembali ke titik nol. Sementara aku sendiri sudah nggak bisa menahan emosi. Kami sering berdebat (udah kaya orang pacaran aja, anak itu kecil-kecil cemburuan dan dewasa banget pikirannya) tentang apa yang seharusnya dia lakukan atau tidak dilakukan. Masih inget kata-kata terakhir waktu kami ketemu, "Kak Alfa jahat! Pura-pura baik tapi sebenernya jahat! Aku nggak mau lagi sama kak Alfa!" Sakit banget denger kata-kata itu, sungguh aku nggak pernah bermaksud bikin dia sakit hati sama aku. Aku cuma pengen dia jauh dari aku biar lebih mudah menerima orang baru, calon terapisnya dia, yang sayangnya sampai aku ketemu terakhir sama Irvine nggak pernah muncul untuk perkenalan dan menjalin rapport. Mungkin dia merasa "dibuang", sama seperti dia "dibuang" ayah dan ibunya.
Aku nggak tahu keadaannya sekarang, seharusnya dia udah naik ke kelas 4 SD. Aku masih menyimpan perasaan bersalah itu. Banyak kata seandainya yang tersimpan di benakku. Aku cuma pengen dia tau, aku nggak pernah bermaksud "membuang" dia. Dia pengalaman terbaik sekaligus terburukku. Sejak itu aku nggak pernah mau terima klien terapi lagi, cukup klien tes psikologi aja. Takut, aku tahu kadang-kadang aku nggak bisa tulus care sama anak kecil padahal anak kecil bisa merasakan seseorang itu tulus care sama dia ato enggak.
Belajar dari pengalaman Irvine, anak itu selalu jadi korban orangtua. Dalam hal ini aku tidak menekankan pada ibu, tapi juga ayah. Karena tanpa disadari sebenarnya sosok ayah justru yang berperan penting terhadap perkembangan psikologis anak. Anak perempuan (kata Freud) pada tahapan usia tertentu "jatuh cinta" sama sosok ayahnya dan menganggap ibunya sebagai saingan sehingga ia tidak mau menjadi seperti ibunya. Sedangkan anak laki "jatuh cinta" pada sosok ibu dan meniru sosok ayahnya (yang dianggap sebagai orang hebat karena bisa memiliki ibunya) agar bisa bersaing mendapatkan "cinta" ibunya.
Tanggungjawab terhadap anak adalah tanggungjawab orangtua, satu paket lengkap! Bukan cuma ayah, bukan cuma ibu. Perselingkuhan, domestik violence, perceraian dan masih banyak konflik rumah tangga menimbulkan efek negatif terhadap perkembangan psikologis anak. Sebelum melakukan sesuatu untuk kesenangan pribadi wahai ayah, wahai ibu, tolong diingat, kelak anak yang akan menanggung akibatnya. Kalau ada selebritis yang bercerai lalu bilang, "oh, anak saya nggak masalah. toh saya masih berhubungan dengan baik dengan ibu/bapaknya. lagian dia masih terlalu kecil untuk mengerti. anak-anak kan gampang lupa, cepet hilang sedihnya." Mungkin mereka harus banyak belajar dari anak-anak bermasalah seperti Irvine dan saya ;-p


-girl just wanna have fun-


posted by -nia- @--}--- Friday, September 24, 2004 l




:: Profile ::

Nia/Female/21-25. Lives in Indonesia/East Java/Sidoarjo, speaks Indonesian and English. Eye color is black. I am great looking. I am also confident. My interests are reading, movies, make friends/writing, music, party.
This is my blogchalk:
Indonesia, East Java, Sidoarjo, Indonesian, English, Nia, Female, 21-25, reading, movies, make friends, writing, music, party.


:: Fellows ::


Blogroll Me!

:: Shout box ::

:: 10 most recent entries ::

jangan beri aku narkoba - alberthiene endah
tragedi lunch di foodcourt
alhamdulillah
cinta yang agung
i miss my best friends
cerpen
Because of You If ever you wondered if you touc...
my old pals
koleksi nama nih
belajar menghargai orang lain

:: Archieves ::

November 2003
December 2003
January 2004
February 2004
March 2004
April 2004
May 2004
June 2004
July 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
April 2005
May 2005

:: Guest ::



:: Credits ::

blogskins
bloglet
okcounter
doneeh

Solidaritas untuk anak Indonesia




BlogFam CommunityFeedback by backBlog
Listed on BlogShares
Listed on Blogwise
MyShoutbox.com - Free Shoutbox!Powered by Blogger
Link to ClockLink.com

Design